Senin, 13 Desember 2010

Komunikasi Nonverbal FISIP Atma Jaya


Pola komunikasi yang terjadi pada manusia adalah bermacam-macam. Komunikasi pada dasarnya terbagi atas dua, komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal adalah penyampaian dan penerimaan pesan lewat bahasa verbal. Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai aspek realitas individual kita. (Mulyana Dedi, 2007: 261). Namun, bahasa hanya dipakai sekitar 35 % dalam komunikasi yang dilakukan oleh manusia. Hal tersebut dikarenakan bahasa terbatas adanya,jumlah kata yang tersedia terbatas dalam mewakili objek, kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual, bahasa mengandung bias budaya, dan lain-lain. Oleh karena adanya keterbatasan dalam bahasa, maka tercipta symbol atau lambang sebagai komunikasi nonverbal. Setiap orang tampaknya tertarik pada pesan yang dikomunikasikan oleh gerakan tubuh, gerakan mata, ekspresi wajah, sosok tubuh, penggunaan jarak (ruang), kecepatan dan volume bicara, bahkan juga keheningan. Sayangnya, komunikasi nonverbal begitu kompleks sehingga tidak mudah untuk memahaminya. Apalagi, jika tidak mempunyai cukup pengetahuan yang memungkinkan untuk membaca pikiran seseorang dari gerak-gerik, sosok tubuh, atau ekspresi wajah. (Edwi Arief Sosiawan 2010)
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Atma Jaya, adalah mahasiswa yang kental akan darah sosial yang kritis. Sebagai mahasiswa sosial ada ciri yang melekat dan membedakannya dengan mahasiswa dari fakultas lain. Jika diamati, mahasiswa sosial tidak hanya menggunakan bahasa verbal untuk berkomunikasi, tetapi bahasa nonverbalpun terlihat jelas yang mengkomunikasikan bahwa mereka adalah mahasiswa sosial. Begitupula pola komunikasi yang terjadi diantara mereka. Dalam tulisan ini akan lebih dibahas bagaimana dan apa pola komunikasi nonverbal yang terjadi di dalam lingkup mahasiswa fakultas ilmu sosial dan politik Universitas Atma Jaya.

Pakaian
            Dalam berpakaian, mahasiswa fisip bisa terlihat berbeda dengan mahasiswa fakultas lainnya. Mahasiswa FISIP dalam berpakaian mengisyaratkan sebuah kebebasan, artinya mereka tidak terikat oleh sebuah peraturan. Peraturan universitas mengharusan mahasiswa mengenakan kemeja dan sepatu. Namun sebagai mahasiswa yang kritis mereka keluar dari lingkup peraturan dan membuat pengertian “nyaman” bagi mereka. Mereka merasa nyaman dengan pakaian yang simple dan bisa dikatakan “awut-awutan”, bagi mereka inilah penampilan terbaik mereka entah untuk belajar di kampus atau sekedar bermain dan nongkrong di kampus. Penampilan mahasiswa FISIP yang laki-laki biasanya memakai kaos oblong, jeans (biasanya yang robek disana-sini), sepatu dengan berbagai bentuk, mulai dari sepatu bot, kets, hingga yang tidak disebut sepatu (sandal). Berbeda dengan mahasiswa perempuan, mereka lebih mengekspresikan diri lewat style pakaian mereka. Mahasiswa perempuan FISIP terlihat lebih kreatif dalam menampilkan diri mereka, biasanya pakaian yang dipakai oleh mereka adalah pakaian yang lucu-lucu, mulai dari kaos dengan rompi, tambahan sabuk yang dipakai dibaju, celana jeans yang robek-robek, yang kayak kelunturan, bahkan memakai legging (celana karet super ketat), tidak jarang ada yang memakai rok. Sepatunya pun beragam, jam tangan, asesoris yang menempel di rambut, dan full make up. Tapi ada juga mahasiswa yang berpenampilan biasa saja, kaos oblong, jeans dan sandal jepit. Intinya mahasiswa FISIP terlihat berbeda dari segi penampilan mereka.

Gerakan Wajah
            Sama halnya dengan yang lain, mahasiswa Fisip pun sering menggunakan gerakan wajah yang mengkomunikasikan pesan-pesan tertentu. Di dalam kelas misalnya, begitu banyak gerakan wajah yang tergambar. Ada mahasiswa yang memiliki wajah yang sayu, mata mulai redup-redup, menguap, dengan bibir yang mengatup-ngatup, tanda bahwa mahasiswa tersebut bosan dan mengantuk. Lain lagi ekspresi wajah yang sedih, senang, jatuh cinta, melamun, memperhatikan, menangis, marah, wajah tidak puas, dan lain-lain. Di luar kelas pun berbagai macam bentuk komunikasi melalu gerakan wajah, tidak bisa dijelaskan dan digambarkan secara detil bagaimana bentuknya, namun kita pun sudah mengerti apa artinya dan bagaimana bentuknya.

Gerakan Mata
            Mata sebagai indera penglihatan pun bisa dijadikan alat untuk berkomunikasi diantara mahasiswa Fisip. Fungsi gerakan mata ada bermacam-macam, yaitu mencari umpan balik, seorang dosen ketika menjelaskan sesuatu kemudian memandang satu mahasiswa seakan mengatakan, “apa pendapatmua, Nak?”. Adapula gerakan mata yang mengisayaratkan sebuah hubungan, baik yang kedekatannya positif maupun negative. Gerakan mata bisa mengartikan bahwa kedua orang itu memiliki kedekatan yang besar, ditandai dengan tatapan mesra, bentuk mata yang melegkung ke bawah. Berbeda lagi ketika bertemu dengan mahasiswa lainnya yang misalnya tidak memiliki hubungan baik dengannya atau mahasiswa yang asing baginya, bentuk mata akan mengkomunikasikan berbeda di tiap orang yang berbeda.

Sentuhan
            Sentuhan menjadi komunikasi yang penting bagi setiap orang untuk memperdalam penyampaian dan penerimaan pesan. Begitu pula yang terjadi pada mahasiswa Fisip. Sentuhan banyak dilakukan untuk mempererat hubungan. Misalnya ketika berada di luar kelas, koridor kampus, mahasiswa bayak bergerombol dan bercanda, gerakan dan sentuhan banyak dilakukan agar candaan yang disampaikan benar-benar tersampaikan, biasa ketika bercanda mahsiswa fisip melakukan sentuhan seperti menyikut temannya, mendorong, menyenggol, menjitak kepala, memegang hidung, dan lain-lain. Adapula snetuhan yang mengomunikasikan sebuah ritual, yaitu berjabat tangan paa orang yang baru bertemu, dan pada saat perkenalan. Ada pula sentuhan seperti membenarkan rambut temannya, membersihkan debu di belakang baju temannya, hingga menyentuh dahi teman untuk mengetahui dia sakit atau tidak.
Komunikasi yang paling sering digunakan adalah sentuhan, ketika berada di kampus Fisip, kita akn melihat mahasiswa yang saling merangkul, bergandengan tangan, membelai, mengelus, dan menepuk-nepuk bahu, semua itu mengkomunikasikan suatu pesan. ketika saling merangkul dan bergandengan tangan menandakan bahwa ada kedekatan diantara mereka, bila membelai atau mengelus menandakan salah satunya sedang sedih dan yang lain menghibur, bila menepuk bahu menandakan mungkin ada beda status dan kedudukan diantara mereka, bisa saj antara dosen dan mahasiswa, atau mahasiswa angkatan lama dengan mahasiswa angkatan muda.

Komunikasi Interpersonal Tatap Muka dan Bermedia

Manusia merupakan makhluk sosial. Keberadaannya di dunia menuntutnya melakukan komunikasi untuk bertahan hidup. Dapat dibayangkan manusia tanpa komunikasi, tanpa interaksi, akan hidup tanpa kehangatan, kasih sayang, dan perhatian. Penelitian pernah dilakukan, dua anak kembar, dengan wajah yang mirip, dipisahkan lalu keduanya mendapat perlakuan yang berbeda. Salah satunya aktif diajak bicara, dan yang lain selama hidupnya dikurung dalam kamar dan tidak diajak bicara. Bertahun-tahun kemudian, kondisi keduanya diperiksa. Anak yang aktif berkomunikasi mengalami pertumbuhan yang positif, cerdas, dan berkembang seperti ana seusianya. Sedangkan anak yang tidak aktif berkomunikasi, cenderung pendiam, dan takut bertemu orang, serta pertumbuhan dan perkembangan tubuh maupun jiwanya tidak normal.
Dari penelitian diatas menunjukkan bagaimana manusia memerlukan komunikasi dalam tumbuh dan kembangnya. Dalam berkomunikasi, seorang manusia memerlukan satu atau lebih orang untuk diajak berkomunikasi dan berinteraksi. Bila seseorang berkomunikasi dengan satu orang disebut komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi. Proses komunikasi interpersonal seperti ini dapat kita temui dimana saja dan kapan saja. Misalnya di pasar, kita dapat menemukan seorang pembeli yang sedang melakukan penawaran harga. Di gereja, ada seorang ibu yang sedang sharing dengan pendeta/romo. Begitu pula di kampus, seorang mahasiswa berdebat mengenai tugas dari dosen dengan seorang mahasiswa lainnya. Begitu banyak kegiatan yang dilakukan dengan komunikasi interpersonal. Proses komunikasi interpersonal yang terjadi dapat kita katakan sebagai komunikasi yang dilakukan dengan bertatap muka. Namun perkembangan teknologi yang pesat, seperti bermunculan ponsel dengan fitur yang lengkap. Bahkan adanya perkembangan media internet membuat manusia merasa nyaman menggunakannya.
Perkembangan media berdampak pada perkembangan komunikasi interpersonal. Bila sebelumnya kita membahas komunikasi interpersonal dengan tatap muka, lain halnya bila komunikasi yang kita lakukan dengan seseorang menggunakan alat, yaitu media elektronik seperti ponsel, dan internet. Sama halnya dengan dengan kegiatan interpersonal dengan tatp muka, komunikasi interpersonalpun dapat kita temui dimana saja dan kapan saja. Misalnya ketika menelepon, mengirim pesan baik lewat ponsel maupun pesan dengan menggunakan emai, atau pesan pada situs jejaring sosial facebook, atau dengan cara-cara lainnya yang menggunakan media.
Keberadaan komunikasi interpersonal menggunakan media memang banyak diminati masyarakat. Harga ponsel yang sangat murah yang bisa dijangkau semua kalangan dan kelengkapan fitur didalamnya, sehingga seseorang tidak harus memiliki modem dan komputer untuk mengakses internet. Walau begitu harga modem dan komputer masih bisa dijangkau oleh banyak kalangan. Namun esensi dari sebuah komunikasi interpersonal yang dilakukan dengan bertatap muka masih tidak dapat tergantikan oeleh perkembangan media. Jelaslah dalam setiap aspek pasti ada sisi positif dan sisi negatif. Begitupula dengan cara bertatap muka dan menggunakan media dalam komunikasi interpersonal. Berikut akan dijabarkan kelemahan dan kelebihan dari tatap muka dan bermedia.
Kelebihan komunikasi interpersonal tatap muka:
1. Membuat suatu komunikasi menjadi lebih efektif
Ketika saya berbicara (mengirim pesan) maka secara langsung tanpa ada penundaan pesan tersebut sampai pada lawan bicara saya (penerimaan pesan) dan saya akan mendapat tanggapan dari lawan bicara saya (feedback). Dengan tatap muka kita akan mengirim pesan secara langsing dan mendapat feedback pun secara langsung.
2. Kedalaman dan keakuratan isi
Komunikasi tatap muka jelas lebih memperkaya informasi baik yang dikirim maupun yang diterima. Ketika menyampaikan suatu informasi, lawan bicara kita bisa akan lebih memahami informasi tersebut tidak hanya lewat verbal tetapi nonverbal yang ditunjukkan. Begitupula sebaliknya, ketika ada feedback, kedalaman dan keakuratannya lebih tinggi.
3. Memahami lawan bicara
Dengan komunikasi tatap muka akan membuat seseorang memahami dan mempelajari lawan bicaranya lewat tatapan, raut wajah, gerakan alis, mulut, dan gerakan nonverbal lainnya yang ditunjukan. Bila lawan bicara terlihat murung maka saya akan mengurungkan niat untuk menceritakan masalahku dan sebaliknya merangkulnya. Bila semua gerakan nonverbalnya menunjukkan bahwa lawan bicara sedang senang, maka saya akan berniat berbicara mengenai pinjaman uangnya.
Adapun kelemahan dari komunikasi tatap muka adalah tidak efisien dalam kecepatan menyampaikan pesan dan tidak efektif dalam waktu. Ketika kita mengedepankan komunikasi interpersonal dengan bertatap muka, kita akan dipusingkan masalah waktu dan tempat. Apabila lawan bicara anda berada di tempat yang jauh dari anda, apakah anda akan menemuinya sekedar untuk mengatakan bahwa hari ini tidak masuk kerja karena sakit. Bagaimana dengan lawan bicara yang berada diluar kota, luar pulau, dan luar negeri, apakah anda akan menemuinya hanya untuk berbicara tatap muka kepadanya. Hal tersebut berimbas dengan waktu yang ada. Bayangkan waktu anda akan tersita untuk perjalan menemui para lawan bicara anda. Hal tersebut membuat komunikasi berjalan tidak efisien.
Bagaimana dengan komunikasi interpersonal yang bermedia, kelebihan kelemahannya pun ada. Kelebihan dari komunikasi bermedia adalah pada keefisien waktu dan cepatnya pesan tersampaikan. Apabila sebelumnya dibahas mengenai susahnya berkomunikasi dengan lawan bcara yang jaraknya jauh, menggunakan media komunikasi adalah jawabannya. Dengan menelepon atau mengirimkan pesan kepada lawan bicara, memudahkan anda untuk menghemat waktu. Semua lawan bicara anda dimanapun mereka berada dapat anda jangkau.
Kelemahan dari komunikasi bermedia adalah pada keakuratan dan kedalaman isi serta tidak adanya kepahaman lawan bicara. Dengan komunikasi bermedia, kita akan mengabaikan pesan nonverbal, kita hanya menafsirkan sebuah pesan dari verbal, baik suara maupun tulisan. Hal tersebut tidak mendalami informasi yang disampaikan, apakah pesan tersebut benar atau tidak, apakah isi pesan mewakili perasaan lawan bicara, lalu munculah kesalahan dalam penafsiran pesan. Ketidakpahaman akan lawan bicara bisa terjadi, banyaknya kasus penculikan anak dimulai dari facebook pun karena tidak bisa tahu bagaimana lawan bicaranya di facebook. Bisa saja yang selama ini menjadi teman facebook anda adalah criminal, namun ia menunjukkan dirinya yang berbeda dari diri yang sebenar-benarnya.
Adanya komunikasi tatap muka dan bermedia tercipta untuk saling melengkapi, agar yang tidak efisien menjadi efisien dan yang tidak efektif menjadi efektif. Namun tetap saja keduanya tidak bisa saling menggantikan, karena tiap-tiapnya memiliki esensi tersendiri dalam penggunaannya.


KOMUNIKASI VIRTUAL


Komunikasi virtual adalah cara berkomunikasi dimana penyampaian dan penerimaan pesan dilakukan dengan melalui cyberspace atau biasa disebut dunia maya. Bentuk-bentuk komunikasi virtual pada abad ini sangat digandrungi setiap orang dan dapat ditemukan dimana saja serta kapan saja. Salah satu bentuk komunikasi virtual adalah pada penggunaan internet. Internet adalah media komunikasi yang cukup efektif dan efisien dengan menyediakan layanan fasilitas seperti web, chatting (mIR chat), dan email, friendster, facebook dan twitter. Begitu banyak fasilitas yang ditawarkan dalam dunia maya untuk melakukan komunikasi, dan keberadaannya semakin membuat manusia tergantung. Ketergantungan tersebut dapat kita lihat pada maraknya penjualan ponsel dengan harga murah dan tawaran kelengkapan facilitas untuk mengakses internet. Komunikasi virtual membuat manusia menyukai pola komunikasi yang menggunakan media daripada pola komunikai tradisional yaitu tatap muka. Kesenangan akan komunikasi yang bermedia ini menimbulkan suatu komunitas baru yang disebut omunitas virtual.
Komunitas virtual adalah sekelompok orang yang bisa dikatakan “pelanggan” dari penggunaan internet. Intensitas penggunaan internet yang mereka lakukan lebih tinggi dan menyebabkan ketergantungan. Biasanya setiap orang dalam komunitas ini mempunyai hobi yang sama yaitu masuk dalam dunia maya dan mempunyai kepentingan yang sama antar beberapa pengguna layanan internet. Bisa dikatak sebagai komunitas virtual karena mereka benar-benar berinteraksi melalui ruang maya baik email, chatting, website, friendster, facebook, dan twitter. Layanan internet yang masih hangat di masyarakat adalah facebook. Komunitas virtual bisa dikatakan memiliki ketergantungan akan facebook dan fasilitas layanan komunikasi lainnya. Mereka cenderung bersifat konsumtif. Dapat banyak kita temukan, orang beramai-ramai menggunakan facebook sebagai media untuk berdagang, mulai dari make up, baju, celana, gelang, kacamata, softlens, jam tangan, obat peninggi badan, obat pengurus badan, dan segala hal yang berhubungan untuk menjadikan seseorang lebih cantik atau tampan. Ketergantungan mereka dapat dilihat juga dengan ponsel yang dilengkapi fitu-fitur yang member kemudahan dalam mengakses internet. Dengan begitu, setiap hati mereka sedang kesal, sedih, bahagia, murung, bĂȘte, senang, berbunga-bunga, atau ketika mereka sedang berada disuatu tempat dengan kejadian yang tidak menarik sampai yang sangat menarik, mereka tuliskan dalam status mereka di facebook. Tingkat keseringan untuk meng-upload status, memperbaharui, dan mengikuti perkembangan status mereka, apakah ada orang lain yang mengomentari atau memberi tanda jempol sebagai tanda menyukai status anda semakin terlihat sebagai cirri-ciri orang dalam komunitas virtual.

Bagian-bagian dalam komunikasi virtual
Email Pengertian Email adalah suatu bentuk komunikasi yang paling menonjol dalam internet dengan memberi ruang kepada pengguna untuk berhubungan dengan siapa saja diseluruh dunia berasaskan asas nyata.Tiga jenis layanan email, yaitu POP Mail, Email jenis ini sama dengan email yang anda terima dari ISP anda. Kelebihannya adalah kemampuannya untuk dibaca secara Offline ( tidak connect ke internet ). Sedangkan kekurangannya adalah tidak bisa mengecek email anda dari sembarang tempat. Web based email, email jenis ini merupakan email yang ditawarkan berbagai situs seperti Yahoo, Hotmail, Bolehmail, Lovemail, dan lain-lain, Kelebihannya adalah bisa mengecek email anda dari mana saja dan browser apa saja. Dan kekurangannya adalah untuk mengecek email, anda harus selalu terhubung ke internet. Email forwarding, email ini akan merasa manfaatnya bagi anda yang belum menemukan layanan email yang cocok. Kelebihannya adalah anda bisa menyembunyikan alamat email anda yang sesungguhnya. Sedangkan  kekurangannya adalah sebagai perantara, email tersebut akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai ketempat anda.
Chatting adalah suatu program untuk para pengguna internet dimana saja berada agar bisa mengenal satu sama lain walaupun dia berada jauh dari kita. Dengan chatting kita juga bisa melihat wajah orang yang baru kita kenal tersebut jika dikomputer kita ada alat yang disebut webcam. Kelebiahannya, Chatting dapat membuat kita mempunyai banyak kenalan meskipun orang yang kita ajak berkomunikasi berada jauh dari kita. Kekurangan kita dapat tertipu oleh orang-orang yang kita ajak berkomunikasi karena kadang mereka bukanlah orang yang sesungguhnya.
WebWeb adalah sebuah sistem dimana informasi dalam bentuk teks, gambar, suara dan lain-lain yang tersimpan dalam sebuah internet webserver dipresentasikan dalam bentuk hypertext. Kelebihannya adalah pertama, kita dapat memasarkan produk atau jasa melewati batas kabupaten, propinsi, negara, samudera dan benua. Kedua, Teknologi yang digunakan adalah fail over hosting, teknologi ini memungkinkan layanan anda tetap online 24 jam karena didukung oleh beberapa server komputer yang secara otomatis akan menggantikan tugas server komputer yang mengalami kerusakan. Kekurangannya dapat terjadi kemungkinan adanya kesalahan dalam pembuatan web yang mengakibatkan web tidak dapat dibuka atau error.

Kelebihan Komunikasi Virtual
1. Sebagai media komunikasi interaktif Feedback yang terjadi dalam komunikasi interaktif terjadi langsung dari komunikannya
2. Memecahkan persoalan materialisme, dan konsumenisme. Lewat komunikasi virtual kita bisa mengetahui semua yang ada di dunia ini dengan melalui internet, jika kita menginginkan sebuah gambar tokoh artis pujaan kita, kita tidak lagi susah-susah untuk membeli atau mencarinya karena kita bisa mendapatkan secara gratis melalui internet.
3. Mengurangi persoalan AIDS/HIV Melalui internet kita bisa memuaskan hasrat seks kita tanpa adanya ketakutan terkena virus-virus seksual.
4. Mengurangi konflik sosial, ekonorni den politik. Walaupun dalam dunia maya kita bisa berinteraksi dengan kebudayaan lain dann bisa menimbulkan suatu konflik tapi di sini kemungkinan munculnya konflik sangatlah sedikit.
 5. Terbebas dan ‘urban decay’ dan ‘social disintegration’. Persoalan kemacetan, kepadatan penduduk, sampah, merupakan persoalan kota besar yang dapat dikurangi bila sebagian kehidupan fisik dialihkan ke dalarn kehidupan virtual.
6. Memecahakan persoalan kebebasan dan demokrasi. Cyberspace menjadi sebuah ‘public sphere’ yana ideal, yang tidak dapat ditemukan di dalam kehidupan nyata.

Kekurangan Model Komunikasi Virtual
1. Pengguna internet yang terlalu berlebihan akan menjadi over dan kemungkinan menjadikan dunia maya menjadi suatu penyalur hasrat dan aka menjadi hyper.
2. cyberspace menjadi penyalur hasrat seks, kejahatan, sadisme, kedangkalan.
3. cyberporn, menjadi persoalan masa depan karena cyberspace yang tanpa identitas.
4. cybespace menajdi ajang kebrutalan semiotic. 







Sumber: 
kajian teoritis komunikasi (Internet dalam perspektif ilmu komunikasi) oleh Edwi Arief Sosiawan, SIP. M.Si
http://triutami.wordpress.com
http://pewexgombel.wordpress.com 




Kamis, 23 September 2010

Model Komunikasi Interaksional

Model komunikasi interaksional menekankan pada komunikasi yang berjalan dua arah. bila dalam model linear komunikasi berjalan hanya sebatas komunikator mengirim pesan dan komunikan yang menerima pesan. Namun dalam model komunikasi interaksional, komunikator dan komunikan bisa mengirim dan menerima pesan. penekanan model komunikasi yang melingkar memungkinkan suatu saat seseorang bisa mengirim pesan dan disaat yang lain seseorang tersebut bisa menerima pesan dari orang lain. Proses tersebut menunjukkan bahwa komunikasi akan selalu berlangsung. Namun perlu diketahui jika seseorang menjadi pengirim pesan atau penerima pesan dalam sebuah interaksi, bukan berarti seseorang bisa memainkan kedua peran tersebut sekaligus.

Elemen yang terpenting dalm komunikasi ini adalah adanya umpan balik (feedback) dari lawan bicara. Adanya umpan balik merupakan bukti bahwa pesan telah terkirim dan telah sampai kepada lawan bicara. Tanggapan (umpan balik) bisa berupa pesan verbal maupun pesan non verbal, sengaja maupun yang tidak sengaja. Adanya umpan balik ini membantu komunikator untuk mengetahui sejauh mana pesan telah disampaikan dan sejau mana pencapaian makna terjadi. Dalam model komunikasi interpersonal, suatu umpan balik merupakan respon setelah pesan dikirim atau dapat dirasakan ketika pesan telah dikirim bukan terjadi bersamaan pengiriman pesan. contoh Anda adalah seorang dosen di suatu universitas. Model komunikasi interaksional akan terlihat mana kala Anda sedang mengajar dikelas. Ketika anda mengajar, Anda sedang member informasi kepada mahsiswa, artinya Anda berperan sebagai pengirim pesan dan murid Anda sebagai penerima pesan saat itu. Gerakan anggukan dan sahutan dari murid Anda-lah yang disebut umpan balik. Dari berbagai ekspresi yang mereka gambarkan akan membantu Anda untuk mngetahui sejauh mana penjelasan Anda ditangkap oleh para murid. Namun saat diskusi tiba, ketika salah satu murid memberi pendapat maka dia berperan sebagai komunikator dan Anda sebagai komunikan. Begitu seterusnya terjadi sehingga komunikasi akan terus selalu berjalan.

 Elemen terakhir dalam model ini adalah bidang pengalaman (field experience) seseorang, atau bagaimana budaya, pengalaman dan keturunan seseorang mempengaruhi kemampuannya untuk berkomunikasi dengan yang lainnya. Ketika berinteraksi seseorang akan membawa pengalaman yang pernah dialaminya dan kemudian dibagikan kepada yang lain. Misalnya Anda seorang dosen, ketika berbicara didepan kelas mengenai pola komunikasi yang terjadi di Amerika. Selain mendapat informasi dari buku referansi yang Anda baca, tetapi juga dari pengalaman Anda yang pernah tinggal lama disana, mungkin orangtua Anda adalah keturunan Amerika, dan seterusnya. Anada akan lebih percaya diri dalam mengajar, karena pengalaman tersebut memberi banyak informasi tentang pola komunikasi di Amerika. Sama halnya ketika sepasang kekasih berkencan. Sepasang kekasih ini merupakan dua orang dengan pengalaman yang berbeda, latar belakang keluarga yang berbeda, tempat tinggal, kebiasaan, adat istiada, agama, bahasa, dan pendidikan. Masing-masing dari mereka akan menceritakan pengalaman-pengalaman mereka selama ini. Pengalaman-pengalaman ini (dan yang lain) akan mempengaruhi bagaimana dua orang ini ketika bersama dan hampir pasti akan mempengaruhi cara keduanya mempertahankan hubungan mereka.

Seperti pandangan linear, model interaksional juga telah dikritisi. Pertama-tama, model ini menyatakan bahwa satu orang bertindak sebagai pengirim dan sementara yang lain bertindak sebagai penerima dalam sebuah proses komunikasi. Kritik yang relevan terhadap model interaksional ini berkaitan dengan umpan balik. Apa yang terjadi ketika seseorang mengirim pesan nonverbal dalam sebuah interaksi? Tersenyum, cemberut, atau mengalihkan pembicaraan dalam sebuah interaksi antara dua orang selalu terjadi. Dalam sebuah interaksi antara ibu dan anak misalnya, seorang ibu mungkin saja memarahi anaknya sambil terus menerus memperhatikan prilaku nonverbal anaknya. Apakah ia tertawa?atau sedih? Atau apakah dia mendengarkan ibunya? Tiap prilaku ini akan mempengaruhi si ibu untuk menyesuaikan pesannya ketika ia berbicara dengan anaknya. Pandangan interaksional berasumsi bahwa dua orang berbicara dan mendengarkan, tetapi tidak dalam saat bersamaan.